Peran Pendakwah Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly
Peran Pendakwah Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly
Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di
kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal
dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah
kawasan lokalisasi pelacuran yang
terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam
ruangan berdinding kaca mirip etalase. Sedikitnya
9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang
kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya
penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini hanya untuk
memuaskan birahi

Konon lokalisasi ini adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara lebih
besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi
dengan kompleks lokalisasi di negeri lain
Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah
satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti
seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota
Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang
ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Gang Dolly ini
sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan
keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly
sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis.
Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang
padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber
rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks dan mucikarinya, tetapi
juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang
becak, dan juga preman penguasa gang dolly tersebut. Para pekerja seks berasal
dari berbagai macam daerah yaitu: Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, bahkan sampai Kalimantan. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly
sebagai model paruh waktu atau freelance.
Lantas
timbul pertanyaan, kalau dikatakan sebagai tempat lokalisasi terbesar di Asia
Tenggara, lalu siapakah pendiri dan penggagas bisnis haram ini untuk pertama
kalinya ? memang sampai saat ini. sejarah awal mula kawasan Dolly sebelum
terkenal seperti sekarang ini masih terjadi perbedaan di kalangan sejarawan.
Akan tetapi satu hal yang bisa dipastikan, bahwa nama Dolly sendiri memang
sudah ada dan sangat terkenal sejak abad ke 19 pada masa colonial Belanda.
Berikut ini adalah beberapa versi mengenai sejarah awal mula pendiri atau
penggagas kawasan Dolly untuk pertama kali :
Dolly
Van De Mart
Memang banyak beragam kisah mengenai
berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari
salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya.
Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan dari negeri kincir angin
tersebut yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang
tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena
pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat
tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali dan menjadi
candu. Tetapi tidak hanya itu,
masyarakat pribumi pun ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu
sehingga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal
hingga sampai seperti sekarang.
Dolly
Khavit
Selain kisah Dolly Van De Mart
seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain atau cerita lain mengenai
awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini,
menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan
pemakaman Cina atau Tionghoa yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian
rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur
berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal
dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit
mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.
Usaha rumah bordilnya ini membuat
orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya
kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak
saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan
rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi
yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan
berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
Semakin lama Gang Dolly semakin
dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas
pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan
sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek,
kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000
lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap
menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat
melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian
juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan
calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.

Potret
kehidupan di Dolly hanyalah secuil dari sejarah budaya pelacuran. Menurut
Wakhudin (2006), pelacuran sudah ada sejak zaman raja-raja Jawa. Seluruh
kehidupan yang ada di atas Tanah Jawa adalah milik raja, termasuk hukum dan
keadilan. Ketika raja berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi, termasuk
saat dia ingin mempersunting seorang istri di luar permaisuri atau selir.
Bahkan, banyak bangsawan yang ingin puterinya yang cantik dan memikat dijadikan
selir seorang raja, karena dianggap penghormatan.
Selain
selir, para raja juga menyimpan gundik atau wanita di luar nikah. Praktik
pergundikan ini merupakan adat raja-raja Jawa, yang menyebar ke masyarakat
luas. Praktik pergundikan ini terus terjadi hingga zaman colonial dan pada masa
itu yang terjadi bukan lagi antara raja dengan masyarakatnya, namun antara tuan
tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi
bawahannya. Sedikitnya, ada 11 kabupaten yang dalam sejarah dikenal sebagai
pemasok perempuan untuk raja, yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, serta
Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan, serta Wonogiri di Jawa Tengah;
dan Blitar, Malang, Banyuwangi, serta Lamongan di Jawa Timur.
Sekarang
beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya
ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan
Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini
menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik
pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi
secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta
langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas
sektoral.
Tepat
pada tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri
Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang
dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi
penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat
panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga
sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut.
Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah
mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka
itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.

Ratusan warga eks lokalisasi Dolly Surabaya kembali menggelar
aksi di depan Pengadilan Negeri Surabaya Jalan Arjuno, Senin (3/9/2018). Mereka
mengawal sidang putusan atau vonis perkara gugatan class action kelompok warga
atas penutupan Lokalisasi Dolly. Sama seperti aksi sebelumnya, warga membawa
produk-produk usaha ekonomi seperti sandal hotel, kain batik, hingga produk
jajanan khas Dolly. Kelompok warga eks lokalisasi Dolly bergabung dengan massa
dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur yang mendukung Pemkot
Surabaya dalam kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly. Baca juga: 5 Berita
Terpopuler Nusantara, Warga Kampung Dolly Gugat Risma hingga Fakta Si Macan
Asia Tidak jauh dari lokasi aksi warga eks lokalisasi Dolly dan massa GUIB
Jatim menggelar aksi, ratusan kelompok warga penggugat juga menggelar aksi
mendukung majelis hakim agar mengabulkan gugatan warga.
Pantauan Kompas.com, kedua kelompok massa yang sama-sama
menggelar orasi, dipisah barikade personil polisi sepanjang 50 meter. Aksi
kedua massa menimbulkan kemacetan di Jalan Arjuno, karena memakan separuh
jalan. Seperti diberitakan, kelompok warga yang mengatasnamakan warga eks
lokalisasi Dolly menggugat Pemkot Surabaya atas kerugian materil maupun
immateril atas kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly pada 2014 lalu. Pemkot
Surabaya dianggap tidak berhasil memulihkan ekonomi warga lokalisasi Dolly
seperti yang dijanjikan. Atas gugatan itu, Pemkot Surabaya diminta membayar
kerugian sebesar Rp 270 miliar.
Salah
seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang
memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk
mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang
dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia
membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.
Memang selama ini Dolly menjadi
salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor
informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di
kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta
(US$
25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang
kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.
Munculnya pengangguran baru yang ada
setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan permasalahan baru di Kota
Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran
saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan
lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut menilai, pentupan ini bakal
membuat hidup warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi
sengsara
Sejak pemerintah menutup lokalisasi
Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti biasanya. Di mana terlihat
puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu. Sebelumnya sudah biasa terdengar
suara music bersahutan antar wisma. Mulai music dangdut hingga music disco.
Kini, masayarakat tersebut sudah beralih profesi sesuai dengan kondisi yang
saat ini.
Seperti yang dulunya bekerja sebagai
mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang dulunya bekerja sebagai pemilik
salon, sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, hingga yang dulunya berjualan
atau membuka took kelontong ikut berganti pula membuka giras (warung kopi),
yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma sekarang membuka usaha laundry,
tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih fungsi menjadi tempat futsal
oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal dengan bangunannya yang 6 lantai
bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal dan sepatu kulit.
Penutupan Dolly bukanlah keputusan
yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung Pemerintah Provinsi dan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye menghapus julukan Kota
Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga tahun terakhir.
Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya
dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk
membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.
Untuk mendukung Program Surabaya
Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp. 4,2 juta
kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah
PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat
sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132
PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi
162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapa 213 PSK.
Dalam rangka melakukan penutupan,
Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk membeli seluruh wisma yang
ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota Surabaya berencana mengubah
wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam.
Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka
jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan computer,
lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan
sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga direncanakan akan di bangun
taman-taman kota.
Namun demikian, penutupan lokalisasi
Dolly pada tanggal 28 Juni 2014 tetap menimbulkan kontroversi, terutama bagi
mereka yang memperoleh penghasilan dari kawasan tersebut. Lokalisasi dianggap
memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar. Seperti berbagai praktek
penggusuran lain, pemindahan pusat pereonomian dari satu tempat ke tempat lain
selalu menimbulkan ketakutan bagi pelaku usaha. Ketakutan itu terkait dengan
ketidakyakinan mereka bahwa di tempat yang baru mereka dapat memperoleh
penghasilan yang setara dengan yang mereka terima ketika di Dolly.
Secara resmi lokalisasi Dolly sudah
ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil mematikan praktek pelacuran.
Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta untuk PSK dan Rp. 5 Juta
untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya tidak disetujui
oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL)
Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta itu tidak berarti banyak
untuk para PSK dan mucikari.
Hingga
menjelang penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang
dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi
ada lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi
adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini
menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih
laku.
Pemerintah Kota Surabaya telah
memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi
tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima
pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai
PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum
tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat
berdampak pada pelacuran di tempat lain.
Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk
pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini
juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah
tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu
yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya
masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
Tempat prostitusi di Surabaya yang terkenal
sampai dengan mancanegara yaitu Dolly, tidak hanya akan ditutup berdasarkan
Peraturan Daerah (Perda) No.7 tahun 1999 tentang Larangan Menggunakan
Bangunan/Tempat untuk Perbuatan Asusila, serta Pemikatan untuk Melakukan
Perbuatan Asusila dinilai blunder.
Oleh sebab itu banyak pihak yang menuturkan
bahwa Perda yang ada tidak akan mampu menutup serta menyatakan bahwa Dolly
merupakan segudang tempat yang dikategorikan ilegal.
Hal tersebut tentu saja masuk akal, kalau ada
Peraturan Daerah yang dikeluarkan, kenapa Dolly tidak dibubarkan saja dari dulu
? lagipula secara histotis keberadaan lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan
Putat Jaya, itu sudah lama dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Sehingga selain adanya Perda yang ada tetap
saja dibutuhkan payung
hukum berupa SK dari Wali Kota. Jika Wali Kota
menyatakan tempat itu sebagai temapt yang ilegal dan harus dibubarkan, maka
tempat itu akan sesegera mungkin dibubarkan.
Hal tersebut dibuktikan langsung dengan aksi
para PSK yang memblokade jalan utama untuk menuju Dolly pada Rabu pagi (16/6).
Aksi demo diiringi dengan aksi blokade jalan diramaikan dengan teriakkan para
PSK Dolly yang menghujat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan
kata-kata yang sangat kejam.
Berdasarkan pengertian dari Pekerja seks
Komersial merupakan penjualan jasa seksual seperti seks oral atau
hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur,
yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK)
(Wikipedia).
Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah sebutan
bagi “pelacur”. Istilah lain yang memiliki arti yang sama adalah Wanita Tuna
Susila (WTS), dan perempuan yang dilacurkan (Pedila). Pada Ensiklopedia
Nasional Indonesia dijelaskan bahwa ”pelacuran” sama artinya dengan
“prostitusi”, merupakan kegiatan manusia dalam menjual atau menyewakan tubuhnya
untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan atau upah.
Latar belakang tumbuhnya Pekerja Seks Komersial
1.
Menghindari
kesulitan hidup dengan jalan yang pendek
2.
Adanya
keroyalan seks
3.
Perilaku
konsumtif dan adanya kemalasan untuk bekerja
4.
Pengaruh
lingkungan
Akibat yang dapat ditimbulkan dari Pekerja Seks Komersial
1.
Adanya penyakit
menular seksual dari dalam tubuh
2.
Merusak tatanan
moral yang ada dalam keluarga
3.
Merusak norma
yang ada dalam lingkungan
4.
Dekatnya dengan
kriminalitas terutama narkotika
5.
Eksplorasi
manusia lainnya
Pemerintahan
selama ini telah melakukan segala daya dan upaya untuk memberantas habis
kegiatan pelacuran yang ada, akan tetapi sampai saai ini pun hasil yang
ditujukkan masih belum memuaskan. Padahal jika ditelusuri dengan hati yang
jernih kegiatan pelacuran dapat menimbulkan benih-benih penyakit yang sangat
berbahaya salah satunya adalah HIV AIDS.
Kuliah
lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur Gang VII di
sebuah masjid bernama At-Taubah, sesuai namanya yaitu tempat bertaubat. Nama
yang tepat untuk sebuah Rumah Allah di tengah-tengah lingkungan yang
dikelilingi oleh kemaksiatan. Yaitu sebagai tempat kembali menjadi manusia yang
bersih dan suci dari noda dosa. Pada tahun 1987 masjid ini dulunya adalah rumah
Allah ini masih Mushalla sederhana bernama Al Huda. Kemudian dengan semakin
kesadaran warga sekitar dalam beribadah, akhirnya pada tahun 1989 mushollah itu
berubah menjadi masjid. Dan pada tanggal 17 Februari 1989 adalah khutbah
pertama yang dilakukan oleh pak Petruk.
Kuliah lapangan yang mengambil tema
“DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber
yang sangat hebat. yaitu yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan
Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian
selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang
namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan
lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses,
owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro,
seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.

Selain ke-empat narasumber dalam
kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan
disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa
bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau
ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang
memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi
saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut
bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.

Abah
Petruk (kiri) KH. Drs. Khoiron Syuaib
Abah Petruk ini dalam proses
dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang dimaksud adalah
penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit
ghaib (guna-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk akan turun tangan.
Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan
sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan. Tetunya, ini juga
bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. “Saya pernah dilempari batu
ketika sedang mengimami shalat. Beruntungnya tidak sampai mengenai jamaah,
hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat alas.”
Ujar beliau dengan penuh kesabaran. Dan kesabaran, ketelatenan, serta
kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya. Do’a-do’a beliau yang
selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
“Oleh karena itu, dakwah tidak bisa
dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.”
Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau
sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah
dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam
ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan
dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action
seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
Dari Abah Petruk, beralih ke
Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti yang sudah saya
katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan
pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah
secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti. Sedang
beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah. Hingga
kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
Setelah melewati berbagai lika-liku
kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit di Surabaya, beliau memulai
berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini.
Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah
SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses
dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara yang digunakannya pun cukup unik,
karena beliau adalah orang yang mampu dalam hal materi, beliau menggunakan
materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual. “Di beli satu per satu, lama
kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan begitu tidak ada lagi tempat
untuk melakukan maksiat lagi di sini.” Katanya dengan mantap. Untuk itulah, dalam
dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk
keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim
serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
Dalam kesempatan itu juga, beliau
menitip pesan untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kuliah lapangan
tersebut. Pertama beliau berpesan mengenai kejujuran. Beliau mengatakan
kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau
mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi
sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga
mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya.
Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah
pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan
tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
Setelah H. Sunarto Sholahudin,
narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen
Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai
“Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau
mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
Menurut beliau, dakwah itu merubah
dan merombak kemungkaran. Apa yang harus dirubah? Banyak. Salah satunya merubah
mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak melacur, tidak makan.”.
bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah tertanam di alam bawah sadar
mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah. Dalam hal ini, beliau juga
mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara kelembagaan. Beliau juga
berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen
Masyarakat Surabaya).
Dalam
berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif, yaitu metode pendekatan untuk
mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif, yaitu dan Solutif. Dan satu statement luar biasa
dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage dengan
baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat, apalagi
sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru semakin
lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus di manage
dengan baik.
Kemudian
narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai
prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu
PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa
diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah adalah
mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung
menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan
membosankan.
Salah
satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai
dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan
terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari
pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama
setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah
juga terus dilakukan untuk mengimbanginya.
Narasumber
yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk
dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi. Mengenai pengalaman
dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam. Beliau berbagi cerita
bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari
para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang
selalu ditemani oleh minuman keras dan
dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman
lain.
Tetapi
itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT
masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia
yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam
melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita,
bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain.
Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu
dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka
merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar
islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari
perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat
menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten,
dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok
Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya
antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan
dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Tetapi
sudah pasti, ini semua bukan hal mudah bagi beliau. Cemoohan dari kawan-kawan
lamanya kerap kali di dengar beliau. Tuduhan sok aim dan sok suci karena
berkumpul dengan kyai tetap tidak membuat surut langkahnya di atas jalan
kebenaran. Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau hingga sampai mendapatkan
bonus dari Allah SWT berupa mengunjungi rumahnya Baitullah untuk menunaikan
ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari kerajaan Saudi
Arabia. Tentu ini sesuatu yang amat langka yang belum tentu semua muslim bisa
memperolehnya.
Kata-kata
pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan nggak ada
habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya.” dan
“Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih
membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di atas,
tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan kebermanfaatan
bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut
ini 5 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan di eks-lokalisasi :
1. Saya dapat mengetahui bagaimana proses
dakwah secara keseluruhan yang dijalankan untuk memberantas PSK yang ada di
Gang Dolly.
2. Mengetahui tentang dunia entrepreneurship
bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan kejujuran.
3. Allah selalu Memberikan Hidayah tanpa
terduga-duga.
4. Dapat mengetahui hasil dari proses dakwah yang
dilakukan secara konsisten.
5. Berdakwah dengan cara yang tegas tetapi
penuh dengan kelembutan dan tanpa pemaksaan.
Dapat
mengenal para mubaligh-mubaligh hebat yang telah berkontribusi besar dan
mendedikasikan diri untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Peran Orang Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly
Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di
kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal
dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur.
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah
kawasan lokalisasi pelacuran yang
terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam
ruangan berdinding kaca mirip etalase. Sedikitnya
9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang
kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya
penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini hanya untuk
memuaskan birahi

Konon lokalisasi ini adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara lebih
besar dari Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura.
Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi
dengan kompleks lokalisasi di negeri lain
Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah
satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti
seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota
Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang
ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Gang Dolly ini
sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan
keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly
sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis.
Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang
padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber
rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks dan mucikarinya, tetapi
juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang
becak, dan juga preman penguasa gang dolly tersebut. Para pekerja seks berasal
dari berbagai macam daerah yaitu: Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, bahkan sampai Kalimantan. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly
sebagai model paruh waktu atau freelance.
Lantas
timbul pertanyaan, kalau dikatakan sebagai tempat lokalisasi terbesar di Asia
Tenggara, lalu siapakah pendiri dan penggagas bisnis haram ini untuk pertama
kalinya ? memang sampai saat ini. sejarah awal mula kawasan Dolly sebelum
terkenal seperti sekarang ini masih terjadi perbedaan di kalangan sejarawan.
Akan tetapi satu hal yang bisa dipastikan, bahwa nama Dolly sendiri memang
sudah ada dan sangat terkenal sejak abad ke 19 pada masa colonial Belanda.
Berikut ini adalah beberapa versi mengenai sejarah awal mula pendiri atau
penggagas kawasan Dolly untuk pertama kali :
Dolly
Van De Mart
Memang banyak beragam kisah mengenai
berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari
salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya.
Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan dari negeri kincir angin
tersebut yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang
tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena
pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat
tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali dan menjadi
candu. Tetapi tidak hanya itu,
masyarakat pribumi pun ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu
sehingga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal
hingga sampai seperti sekarang.
Dolly
Khavit
Selain kisah Dolly Van De Mart
seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain atau cerita lain mengenai
awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini,
menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan
pemakaman Cina atau Tionghoa yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian
rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur
berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal
dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit
mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.
Usaha rumah bordilnya ini membuat
orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya
kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak
saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan
rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi
yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan
berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
Semakin lama Gang Dolly semakin
dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas
pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan
sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek,
kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000
lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap
menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat
melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian
juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan
calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.

Potret
kehidupan di Dolly hanyalah secuil dari sejarah budaya pelacuran. Menurut
Wakhudin (2006), pelacuran sudah ada sejak zaman raja-raja Jawa. Seluruh
kehidupan yang ada di atas Tanah Jawa adalah milik raja, termasuk hukum dan
keadilan. Ketika raja berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi, termasuk
saat dia ingin mempersunting seorang istri di luar permaisuri atau selir.
Bahkan, banyak bangsawan yang ingin puterinya yang cantik dan memikat dijadikan
selir seorang raja, karena dianggap penghormatan.
Selain
selir, para raja juga menyimpan gundik atau wanita di luar nikah. Praktik
pergundikan ini merupakan adat raja-raja Jawa, yang menyebar ke masyarakat
luas. Praktik pergundikan ini terus terjadi hingga zaman colonial dan pada masa
itu yang terjadi bukan lagi antara raja dengan masyarakatnya, namun antara tuan
tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi
bawahannya. Sedikitnya, ada 11 kabupaten yang dalam sejarah dikenal sebagai
pemasok perempuan untuk raja, yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, serta
Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan, serta Wonogiri di Jawa Tengah;
dan Blitar, Malang, Banyuwangi, serta Lamongan di Jawa Timur.
Sekarang
beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya
ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan
Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini
menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik
pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi
secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta
langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas
sektoral.
Tepat
pada tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri
Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang
dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi
penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat
panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga
sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut.
Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah
mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka
itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.

Ratusan warga eks lokalisasi Dolly Surabaya kembali menggelar
aksi di depan Pengadilan Negeri Surabaya Jalan Arjuno, Senin (3/9/2018). Mereka
mengawal sidang putusan atau vonis perkara gugatan class action kelompok warga
atas penutupan Lokalisasi Dolly. Sama seperti aksi sebelumnya, warga membawa
produk-produk usaha ekonomi seperti sandal hotel, kain batik, hingga produk
jajanan khas Dolly. Kelompok warga eks lokalisasi Dolly bergabung dengan massa
dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur yang mendukung Pemkot
Surabaya dalam kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly. Baca juga: 5 Berita
Terpopuler Nusantara, Warga Kampung Dolly Gugat Risma hingga Fakta Si Macan
Asia Tidak jauh dari lokasi aksi warga eks lokalisasi Dolly dan massa GUIB
Jatim menggelar aksi, ratusan kelompok warga penggugat juga menggelar aksi
mendukung majelis hakim agar mengabulkan gugatan warga.
Pantauan Kompas.com, kedua kelompok massa yang sama-sama
menggelar orasi, dipisah barikade personil polisi sepanjang 50 meter. Aksi
kedua massa menimbulkan kemacetan di Jalan Arjuno, karena memakan separuh
jalan. Seperti diberitakan, kelompok warga yang mengatasnamakan warga eks
lokalisasi Dolly menggugat Pemkot Surabaya atas kerugian materil maupun
immateril atas kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly pada 2014 lalu. Pemkot
Surabaya dianggap tidak berhasil memulihkan ekonomi warga lokalisasi Dolly
seperti yang dijanjikan. Atas gugatan itu, Pemkot Surabaya diminta membayar
kerugian sebesar Rp 270 miliar.
Salah
seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang
memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk
mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang
dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia
membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.
Memang selama ini Dolly menjadi
salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor
informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di
kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta
(US$
25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang
kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.
Munculnya pengangguran baru yang ada
setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan permasalahan baru di Kota
Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran
saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan
lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut menilai, pentupan ini bakal
membuat hidup warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi
sengsara
Sejak pemerintah menutup lokalisasi
Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti biasanya. Di mana terlihat
puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu. Sebelumnya sudah biasa terdengar
suara music bersahutan antar wisma. Mulai music dangdut hingga music disco.
Kini, masayarakat tersebut sudah beralih profesi sesuai dengan kondisi yang
saat ini.
Seperti yang dulunya bekerja sebagai
mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang dulunya bekerja sebagai pemilik
salon, sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, hingga yang dulunya berjualan
atau membuka took kelontong ikut berganti pula membuka giras (warung kopi),
yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma sekarang membuka usaha laundry,
tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih fungsi menjadi tempat futsal
oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal dengan bangunannya yang 6 lantai
bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal dan sepatu kulit.
Penutupan Dolly bukanlah keputusan
yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung Pemerintah Provinsi dan
Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye menghapus julukan Kota
Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga tahun terakhir.
Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya
dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk
membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.
Untuk mendukung Program Surabaya
Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp. 4,2 juta
kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah
PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat
sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132
PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi
162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapa 213 PSK.
Dalam rangka melakukan penutupan,
Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk membeli seluruh wisma yang
ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota Surabaya berencana mengubah
wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam.
Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka
jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan computer,
lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan
sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga direncanakan akan di bangun
taman-taman kota.
Namun demikian, penutupan lokalisasi
Dolly pada tanggal 28 Juni 2014 tetap menimbulkan kontroversi, terutama bagi
mereka yang memperoleh penghasilan dari kawasan tersebut. Lokalisasi dianggap
memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar. Seperti berbagai praktek
penggusuran lain, pemindahan pusat pereonomian dari satu tempat ke tempat lain
selalu menimbulkan ketakutan bagi pelaku usaha. Ketakutan itu terkait dengan
ketidakyakinan mereka bahwa di tempat yang baru mereka dapat memperoleh
penghasilan yang setara dengan yang mereka terima ketika di Dolly.
Secara resmi lokalisasi Dolly sudah
ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil mematikan praktek pelacuran.
Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta untuk PSK dan Rp. 5 Juta
untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya tidak disetujui
oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL)
Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta itu tidak berarti banyak
untuk para PSK dan mucikari.
Hingga
menjelang penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang
dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi
ada lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi
adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini
menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih
laku.
Pemerintah Kota Surabaya telah
memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi
tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima
pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai
PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum
tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat
berdampak pada pelacuran di tempat lain.
Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk
pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini
juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah
tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu
yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya
masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
Tempat prostitusi di Surabaya yang terkenal
sampai dengan mancanegara yaitu Dolly, tidak hanya akan ditutup berdasarkan
Peraturan Daerah (Perda) No.7 tahun 1999 tentang Larangan Menggunakan
Bangunan/Tempat untuk Perbuatan Asusila, serta Pemikatan untuk Melakukan
Perbuatan Asusila dinilai blunder.
Oleh sebab itu banyak pihak yang menuturkan
bahwa Perda yang ada tidak akan mampu menutup serta menyatakan bahwa Dolly
merupakan segudang tempat yang dikategorikan ilegal.
Hal tersebut tentu saja masuk akal, kalau ada
Peraturan Daerah yang dikeluarkan, kenapa Dolly tidak dibubarkan saja dari dulu
? lagipula secara histotis keberadaan lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan
Putat Jaya, itu sudah lama dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Sehingga selain adanya Perda yang ada tetap
saja dibutuhkan payung
hukum berupa SK dari Wali Kota. Jika Wali Kota
menyatakan tempat itu sebagai temapt yang ilegal dan harus dibubarkan, maka
tempat itu akan sesegera mungkin dibubarkan.
Hal tersebut dibuktikan langsung dengan aksi
para PSK yang memblokade jalan utama untuk menuju Dolly pada Rabu pagi (16/6).
Aksi demo diiringi dengan aksi blokade jalan diramaikan dengan teriakkan para
PSK Dolly yang menghujat Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dengan
kata-kata yang sangat kejam.
Berdasarkan pengertian dari Pekerja seks
Komersial merupakan penjualan jasa seksual seperti seks oral atau
hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur,
yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK)
(Wikipedia).
Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah sebutan
bagi “pelacur”. Istilah lain yang memiliki arti yang sama adalah Wanita Tuna
Susila (WTS), dan perempuan yang dilacurkan (Pedila). Pada Ensiklopedia
Nasional Indonesia dijelaskan bahwa ”pelacuran” sama artinya dengan
“prostitusi”, merupakan kegiatan manusia dalam menjual atau menyewakan tubuhnya
untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan atau upah.
Latar belakang tumbuhnya Pekerja Seks Komersial
1.
Menghindari
kesulitan hidup dengan jalan yang pendek
2.
Adanya
keroyalan seks
3.
Perilaku
konsumtif dan adanya kemalasan untuk bekerja
4.
Pengaruh
lingkungan
Akibat yang dapat ditimbulkan dari Pekerja Seks Komersial
1.
Adanya penyakit
menular seksual dari dalam tubuh
2.
Merusak tatanan
moral yang ada dalam keluarga
3.
Merusak norma
yang ada dalam lingkungan
4.
Dekatnya dengan
kriminalitas terutama narkotika
5.
Eksplorasi
manusia lainnya
Pemerintahan
selama ini telah melakukan segala daya dan upaya untuk memberantas habis
kegiatan pelacuran yang ada, akan tetapi sampai saai ini pun hasil yang
ditujukkan masih belum memuaskan. Padahal jika ditelusuri dengan hati yang
jernih kegiatan pelacuran dapat menimbulkan benih-benih penyakit yang sangat
berbahaya salah satunya adalah HIV AIDS.
Kuliah
lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur Gang VII di
sebuah masjid bernama At-Taubah, sesuai namanya yaitu tempat bertaubat. Nama
yang tepat untuk sebuah Rumah Allah di tengah-tengah lingkungan yang
dikelilingi oleh kemaksiatan. Yaitu sebagai tempat kembali menjadi manusia yang
bersih dan suci dari noda dosa. Pada tahun 1987 masjid ini dulunya adalah rumah
Allah ini masih Mushalla sederhana bernama Al Huda. Kemudian dengan semakin
kesadaran warga sekitar dalam beribadah, akhirnya pada tahun 1989 mushollah itu
berubah menjadi masjid. Dan pada tanggal 17 Februari 1989 adalah khutbah
pertama yang dilakukan oleh pak Petruk.
Kuliah lapangan yang mengambil tema
“DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber
yang sangat hebat. yaitu yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan
Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian
selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang
namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan
lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses,
owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro,
seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.

Selain ke-empat narasumber dalam
kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan
disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa
bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau
ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang
memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi
saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut
bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.

Abah
Petruk (kiri) KH. Drs. Khoiron Syuaib
Abah Petruk ini dalam proses
dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang dimaksud adalah
penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit
ghaib (guna-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk akan turun tangan.
Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan
sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan. Tetunya, ini juga
bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. “Saya pernah dilempari batu
ketika sedang mengimami shalat. Beruntungnya tidak sampai mengenai jamaah,
hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat alas.”
Ujar beliau dengan penuh kesabaran. Dan kesabaran, ketelatenan, serta
kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya. Do’a-do’a beliau yang
selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
“Oleh karena itu, dakwah tidak bisa
dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.”
Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau
sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah
dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam
ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan
dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action
seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
Dari Abah Petruk, beralih ke
Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti yang sudah saya
katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan
pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah
secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti. Sedang
beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah. Hingga
kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
Setelah melewati berbagai lika-liku
kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit di Surabaya, beliau memulai
berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini.
Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah
SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses
dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara yang digunakannya pun cukup unik,
karena beliau adalah orang yang mampu dalam hal materi, beliau menggunakan
materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual. “Di beli satu per satu, lama
kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan begitu tidak ada lagi tempat
untuk melakukan maksiat lagi di sini.” Katanya dengan mantap. Untuk itulah, dalam
dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk
keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim
serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
Dalam kesempatan itu juga, beliau
menitip pesan untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kuliah lapangan
tersebut. Pertama beliau berpesan mengenai kejujuran. Beliau mengatakan
kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau
mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi
sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga
mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya.
Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah
pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan
tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
Setelah H. Sunarto Sholahudin,
narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen
Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai
“Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau
mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
Menurut beliau, dakwah itu merubah
dan merombak kemungkaran. Apa yang harus dirubah? Banyak. Salah satunya merubah
mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak melacur, tidak makan.”.
bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah tertanam di alam bawah sadar
mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah. Dalam hal ini, beliau juga
mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara kelembagaan. Beliau juga
berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen
Masyarakat Surabaya).
Dalam
berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif, yaitu metode pendekatan untuk
mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif, yaitu dan Solutif. Dan satu statement luar biasa
dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage dengan
baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat, apalagi
sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru semakin
lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus di manage
dengan baik.
Kemudian
narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai
prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu
PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa
diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah adalah
mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung
menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan
membosankan.
Salah
satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai
dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan
terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari
pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama
setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah
juga terus dilakukan untuk mengimbanginya.
Narasumber
yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk
dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi. Mengenai pengalaman
dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam. Beliau berbagi cerita
bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari
para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang
selalu ditemani oleh minuman keras dan
dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman
lain.
Tetapi
itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT
masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia
yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam
melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita,
bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain.
Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu
dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka
merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar
islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari
perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat
menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten,
dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok
Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya
antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan
dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Tetapi
sudah pasti, ini semua bukan hal mudah bagi beliau. Cemoohan dari kawan-kawan
lamanya kerap kali di dengar beliau. Tuduhan sok aim dan sok suci karena
berkumpul dengan kyai tetap tidak membuat surut langkahnya di atas jalan
kebenaran. Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau hingga sampai mendapatkan
bonus dari Allah SWT berupa mengunjungi rumahnya Baitullah untuk menunaikan
ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari kerajaan Saudi
Arabia. Tentu ini sesuatu yang amat langka yang belum tentu semua muslim bisa
memperolehnya.
Kata-kata
pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan nggak ada
habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya.” dan
“Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih
membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di atas,
tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan kebermanfaatan
bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut
ini 5 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan di eks-lokalisasi :
1. Saya dapat mengetahui bagaimana proses
dakwah secara keseluruhan yang dijalankan untuk memberantas PSK yang ada di
Gang Dolly.
2. Mengetahui tentang dunia entrepreneurship
bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan kejujuran.
3. Allah selalu Memberikan Hidayah tanpa
terduga-duga.
4. Dapat mengetahui hasil dari proses dakwah yang
dilakukan secara konsisten.
5. Berdakwah dengan cara yang tegas tetapi
penuh dengan kelembutan dan tanpa pemaksaan.
Dapat
mengenal para mubaligh-mubaligh hebat yang telah berkontribusi besar dan
mendedikasikan diri untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Komentar
Posting Komentar