Peran Pendakwah Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly


Peran Pendakwah Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly

Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur. Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota SurabayaJawa TimurIndonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini hanya untuk memuaskan birahi


Konon lokalisasi ini adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di BangkokThailand dan Geylang di Singapura. Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks dan mucikarinya, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak, dan juga preman penguasa gang dolly tersebut. Para pekerja seks berasal dari berbagai macam daerah yaitu: SemarangKudusPatiPurwodadiNganjukSurabaya, bahkan sampai Kalimantan. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.
Lantas timbul pertanyaan, kalau dikatakan sebagai tempat lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, lalu siapakah pendiri dan penggagas bisnis haram ini untuk pertama kalinya ? memang sampai saat ini. sejarah awal mula kawasan Dolly sebelum terkenal seperti sekarang ini masih terjadi perbedaan di kalangan sejarawan. Akan tetapi satu hal yang bisa dipastikan, bahwa nama Dolly sendiri memang sudah ada dan sangat terkenal sejak abad ke 19 pada masa colonial Belanda. Berikut ini adalah beberapa versi mengenai sejarah awal mula pendiri atau penggagas kawasan Dolly untuk pertama kali :
Dolly Van De Mart
            Memang banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan dari negeri kincir angin tersebut yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali dan menjadi candu. Tetapi  tidak hanya itu, masyarakat pribumi pun ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehingga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga sampai seperti sekarang.
Dolly Khavit
            Selain kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain atau cerita lain mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan pemakaman Cina atau Tionghoa yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.
            Usaha rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
            Semakin lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.


Potret kehidupan di Dolly hanyalah secuil dari sejarah budaya pelacuran. Menurut Wakhudin (2006), pelacuran sudah ada sejak zaman raja-raja Jawa. Seluruh kehidupan yang ada di atas Tanah Jawa adalah milik raja, termasuk hukum dan keadilan. Ketika raja berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi, termasuk saat dia ingin mempersunting seorang istri di luar permaisuri atau selir. Bahkan, banyak bangsawan yang ingin puterinya yang cantik dan memikat dijadikan selir seorang raja, karena dianggap penghormatan.
Selain selir, para raja juga menyimpan gundik atau wanita di luar nikah. Praktik pergundikan ini merupakan adat raja-raja Jawa, yang menyebar ke masyarakat luas. Praktik pergundikan ini terus terjadi hingga zaman colonial dan pada masa itu yang terjadi bukan lagi antara raja dengan masyarakatnya, namun antara tuan tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi bawahannya. Sedikitnya, ada 11 kabupaten yang dalam sejarah dikenal sebagai pemasok perempuan untuk raja, yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, serta Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan, serta Wonogiri di Jawa Tengah; dan Blitar, Malang, Banyuwangi, serta Lamongan di Jawa Timur.
Sekarang beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas sektoral.
Tepat pada tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.

 

Ratusan warga eks lokalisasi Dolly Surabaya kembali menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri Surabaya Jalan Arjuno, Senin (3/9/2018). Mereka mengawal sidang putusan atau vonis perkara gugatan class action kelompok warga atas penutupan Lokalisasi Dolly. Sama seperti aksi sebelumnya, warga membawa produk-produk usaha ekonomi seperti sandal hotel, kain batik, hingga produk jajanan khas Dolly. Kelompok warga eks lokalisasi Dolly bergabung dengan massa dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur yang mendukung Pemkot Surabaya dalam kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly. Baca juga: 5 Berita Terpopuler Nusantara, Warga Kampung Dolly Gugat Risma hingga Fakta Si Macan Asia Tidak jauh dari lokasi aksi warga eks lokalisasi Dolly dan massa GUIB Jatim menggelar aksi, ratusan kelompok warga penggugat juga menggelar aksi mendukung majelis hakim agar mengabulkan gugatan warga.
Pantauan Kompas.com, kedua kelompok massa yang sama-sama menggelar orasi, dipisah barikade personil polisi sepanjang 50 meter. Aksi kedua massa menimbulkan kemacetan di Jalan Arjuno, karena memakan separuh jalan. Seperti diberitakan, kelompok warga yang mengatasnamakan warga eks lokalisasi Dolly menggugat Pemkot Surabaya atas kerugian materil maupun immateril atas kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly pada 2014 lalu. Pemkot Surabaya dianggap tidak berhasil memulihkan ekonomi warga lokalisasi Dolly seperti yang dijanjikan. Atas gugatan itu, Pemkot Surabaya diminta membayar kerugian sebesar Rp 270 miliar. 
Salah seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.
            Memang selama ini Dolly menjadi salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta
(US$ 25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.
            Munculnya pengangguran baru yang ada setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan permasalahan baru di Kota Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut menilai, pentupan ini bakal membuat hidup warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara
            Sejak pemerintah menutup lokalisasi Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti biasanya. Di mana terlihat puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu. Sebelumnya sudah biasa terdengar suara music bersahutan antar wisma. Mulai music dangdut hingga music disco. Kini, masayarakat tersebut sudah beralih profesi sesuai dengan kondisi yang saat ini.
            Seperti yang dulunya bekerja sebagai mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang dulunya bekerja sebagai pemilik salon, sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, hingga yang dulunya berjualan atau membuka took kelontong ikut berganti pula membuka giras (warung kopi), yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma sekarang membuka usaha laundry, tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih fungsi menjadi tempat futsal oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal dengan bangunannya yang 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal dan sepatu kulit.
            Penutupan Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung Pemerintah Provinsi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye menghapus julukan Kota Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga tahun terakhir. Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.
            Untuk mendukung Program Surabaya Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp. 4,2 juta kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi 162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapa 213 PSK.
            Dalam rangka melakukan penutupan, Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk membeli seluruh wisma yang ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota Surabaya berencana mengubah wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam. Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan computer, lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga direncanakan akan di bangun taman-taman kota.
            Namun demikian, penutupan lokalisasi Dolly pada tanggal 28 Juni 2014 tetap menimbulkan kontroversi, terutama bagi mereka yang memperoleh penghasilan dari kawasan tersebut. Lokalisasi dianggap memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar. Seperti berbagai praktek penggusuran lain, pemindahan pusat pereonomian dari satu tempat ke tempat lain selalu menimbulkan ketakutan bagi pelaku usaha. Ketakutan itu terkait dengan ketidakyakinan mereka bahwa di tempat yang baru mereka dapat memperoleh penghasilan yang setara dengan yang mereka terima ketika di Dolly.
            Secara resmi lokalisasi Dolly sudah ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil mematikan praktek pelacuran. Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta untuk PSK dan Rp. 5 Juta untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya tidak disetujui oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta itu tidak berarti banyak untuk para PSK dan mucikari.   
            Hingga menjelang penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi ada lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih laku.
            Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
            Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.


Tempat prostitusi di Surabaya yang terkenal sampai dengan mancanegara yaitu Dolly, tidak hanya akan ditutup berdasarkan  Peraturan Daerah (Perda) No.7 tahun 1999 tentang Larangan Menggunakan Bangunan/Tempat untuk Perbuatan Asusila, serta Pemikatan untuk Melakukan Perbuatan Asusila dinilai blunder.
Oleh sebab itu banyak pihak yang menuturkan bahwa Perda yang ada tidak akan mampu menutup serta menyatakan bahwa Dolly merupakan segudang tempat yang dikategorikan ilegal.
Hal tersebut tentu saja masuk akal, kalau ada Peraturan Daerah yang dikeluarkan, kenapa Dolly tidak dibubarkan saja dari dulu ? lagipula secara histotis keberadaan lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, itu sudah lama dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Sehingga selain adanya Perda yang ada tetap saja dibutuhkan payung hukum berupa SK dari Wali Kota. Jika Wali Kota menyatakan tempat itu sebagai temapt yang ilegal dan harus dibubarkan, maka tempat itu akan sesegera mungkin dibubarkan.
Hal tersebut dibuktikan langsung dengan aksi para PSK yang memblokade jalan utama untuk menuju Dolly pada Rabu pagi (16/6). Aksi demo diiringi dengan aksi blokade jalan diramaikan dengan teriakkan para PSK Dolly yang menghujat Wali Kota Surabaya  Tri Rismaharini dengan kata-kata yang sangat kejam.
Berdasarkan pengertian dari Pekerja seks Komersial merupakan penjualan jasa seksual  seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK) (Wikipedia).
Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah sebutan bagi “pelacur”. Istilah lain yang memiliki arti yang sama adalah Wanita Tuna Susila (WTS), dan perempuan yang dilacurkan (Pedila). Pada Ensiklopedia Nasional Indonesia dijelaskan bahwa ”pelacuran” sama artinya dengan “prostitusi”, merupakan kegiatan manusia dalam menjual atau menyewakan tubuhnya untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan atau upah.
Latar belakang tumbuhnya Pekerja Seks Komersial
1.      Menghindari kesulitan hidup dengan jalan yang pendek
2.      Adanya keroyalan seks
3.      Perilaku konsumtif dan adanya kemalasan untuk bekerja
4.      Pengaruh lingkungan
Akibat yang dapat ditimbulkan dari Pekerja Seks Komersial
1.      Adanya penyakit menular seksual dari dalam tubuh
2.      Merusak tatanan moral yang ada dalam keluarga
3.      Merusak norma yang ada dalam lingkungan
4.      Dekatnya dengan kriminalitas terutama narkotika
5.      Eksplorasi manusia lainnya

Pemerintahan selama ini telah melakukan segala daya dan upaya untuk memberantas habis kegiatan pelacuran yang ada, akan tetapi sampai saai ini pun hasil yang ditujukkan masih belum memuaskan. Padahal jika ditelusuri dengan hati yang jernih kegiatan pelacuran dapat menimbulkan benih-benih penyakit yang sangat berbahaya salah satunya adalah HIV AIDS.


Kuliah lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur Gang VII di sebuah masjid bernama At-Taubah, sesuai namanya yaitu tempat bertaubat. Nama yang tepat untuk sebuah Rumah Allah di tengah-tengah lingkungan yang dikelilingi oleh kemaksiatan. Yaitu sebagai tempat kembali menjadi manusia yang bersih dan suci dari noda dosa. Pada tahun 1987 masjid ini dulunya adalah rumah Allah ini masih Mushalla sederhana bernama Al Huda. Kemudian dengan semakin kesadaran warga sekitar dalam beribadah, akhirnya pada tahun 1989 mushollah itu berubah menjadi masjid. Dan pada tanggal 17 Februari 1989 adalah khutbah pertama yang dilakukan oleh pak Petruk.
            Kuliah lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber yang sangat hebat. yaitu yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.


            Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.

Abah Petruk (kiri) KH. Drs. Khoiron Syuaib
            Abah Petruk ini dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang dimaksud adalah penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit ghaib (guna-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk akan turun tangan. Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan. Tetunya, ini juga bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. “Saya pernah dilempari batu ketika sedang mengimami shalat. Beruntungnya tidak sampai mengenai jamaah, hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat alas.” Ujar beliau dengan penuh kesabaran. Dan kesabaran, ketelatenan, serta kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya. Do’a-do’a beliau yang selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
            “Oleh karena itu, dakwah tidak bisa dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.” Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
            Dari Abah Petruk, beralih ke Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti yang sudah saya katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti. Sedang beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah. Hingga kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
            Setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit di Surabaya, beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara yang digunakannya pun cukup unik, karena beliau adalah orang yang mampu dalam hal materi, beliau menggunakan materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual. “Di beli satu per satu, lama kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan begitu tidak ada lagi tempat untuk melakukan maksiat lagi di sini.” Katanya dengan mantap. Untuk itulah, dalam dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
            Dalam kesempatan itu juga, beliau menitip pesan untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kuliah lapangan tersebut. Pertama beliau berpesan mengenai kejujuran. Beliau mengatakan kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya. Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
            Setelah H. Sunarto Sholahudin, narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
            Menurut beliau, dakwah itu merubah dan merombak kemungkaran. Apa yang harus dirubah? Banyak. Salah satunya merubah mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak melacur, tidak makan.”. bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah tertanam di alam bawah sadar mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah. Dalam hal ini, beliau juga mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara kelembagaan. Beliau juga berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Dalam berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif, yaitu metode pendekatan untuk mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif, yaitu  dan Solutif. Dan satu statement luar biasa dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage dengan baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat, apalagi sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru semakin lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus di manage dengan baik.
Kemudian narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah adalah mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan membosankan.
Salah satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan untuk mengimbanginya.
Narasumber yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi. Mengenai pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam. Beliau berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang selalu ditemani oleh minuman keras dan  dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman lain.
Tetapi itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain. Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Tetapi sudah pasti, ini semua bukan hal mudah bagi beliau. Cemoohan dari kawan-kawan lamanya kerap kali di dengar beliau. Tuduhan sok aim dan sok suci karena berkumpul dengan kyai tetap tidak membuat surut langkahnya di atas jalan kebenaran. Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau hingga sampai mendapatkan bonus dari Allah SWT berupa mengunjungi rumahnya Baitullah untuk menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari kerajaan Saudi Arabia. Tentu ini sesuatu yang amat langka yang belum tentu semua muslim bisa memperolehnya.
Kata-kata pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan nggak ada habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya.” dan “Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di atas, tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut ini 5 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan di eks-lokalisasi :
1.      Saya dapat mengetahui bagaimana proses dakwah secara keseluruhan yang dijalankan untuk memberantas PSK yang ada di Gang Dolly.
2.      Mengetahui tentang dunia entrepreneurship bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan kejujuran.
3.      Allah selalu Memberikan Hidayah tanpa terduga-duga.
4.      Dapat mengetahui hasil dari proses dakwah yang dilakukan secara konsisten.
5.      Berdakwah dengan cara yang tegas tetapi penuh dengan kelembutan dan tanpa pemaksaan.
Dapat mengenal para mubaligh-mubaligh hebat yang telah berkontribusi besar dan mendedikasikan diri untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
Peran Orang Dibalik Layar Penutupan Lokalisasi Pelacuran Di Dolly


Sebagian besar di seluruh negara tepatnya di kota-kota besar ada lokasi prostitusi. Termasuk Indonesia, siapa tak kenal dengan kawasan Dolly yang berada disudut kota Surabaya, Jawa Timur. Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota SurabayaJawa TimurIndonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita penghibur "dipajang" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase. Sedikitnya 9.000 lebih pelacur numplek jadi satu di kawasan tersebut. Pria hidung belang kalangan atas hingga bawah tak sulit ditemukan di kawasan Dolly. Tidak hanya penduduk lokal, wisatawan asing pun tak jarang datang ke sini hanya untuk memuaskan birahi


Konon lokalisasi ini adalah lokalisasi terbesar di Asia Tenggara lebih besar dari Patpong di BangkokThailand dan Geylang di Singapura. Kendati begitu, benar atau tidak, belum ada catatan pembanding resmi dengan kompleks lokalisasi di negeri lain Bahkan pernah terjadi kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.
Lokalisasi ini hampir menyelimuti seluruh jalan di kawasan itu. Bahkan, Dolly lebih dikenal ketimbang kota Surabaya sendiri. Para bule yang sering mangkal di Bali pun kerap menyeberang ke Surabaya hanya untuk 'menjajal' wanita-wanita malam yang dijajakan di Dolly.
Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks dan mucikarinya, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak, dan juga preman penguasa gang dolly tersebut. Para pekerja seks berasal dari berbagai macam daerah yaitu: SemarangKudusPatiPurwodadiNganjukSurabaya, bahkan sampai Kalimantan. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.
Lantas timbul pertanyaan, kalau dikatakan sebagai tempat lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, lalu siapakah pendiri dan penggagas bisnis haram ini untuk pertama kalinya ? memang sampai saat ini. sejarah awal mula kawasan Dolly sebelum terkenal seperti sekarang ini masih terjadi perbedaan di kalangan sejarawan. Akan tetapi satu hal yang bisa dipastikan, bahwa nama Dolly sendiri memang sudah ada dan sangat terkenal sejak abad ke 19 pada masa colonial Belanda. Berikut ini adalah beberapa versi mengenai sejarah awal mula pendiri atau penggagas kawasan Dolly untuk pertama kali :
Dolly Van De Mart
            Memang banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan dari negeri kincir angin tersebut yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali dan menjadi candu. Tetapi  tidak hanya itu, masyarakat pribumi pun ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehingga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga sampai seperti sekarang.
Dolly Khavit
            Selain kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain atau cerita lain mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan pemakaman Cina atau Tionghoa yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.
            Usaha rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.
            Semakin lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.


Potret kehidupan di Dolly hanyalah secuil dari sejarah budaya pelacuran. Menurut Wakhudin (2006), pelacuran sudah ada sejak zaman raja-raja Jawa. Seluruh kehidupan yang ada di atas Tanah Jawa adalah milik raja, termasuk hukum dan keadilan. Ketika raja berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi, termasuk saat dia ingin mempersunting seorang istri di luar permaisuri atau selir. Bahkan, banyak bangsawan yang ingin puterinya yang cantik dan memikat dijadikan selir seorang raja, karena dianggap penghormatan.
Selain selir, para raja juga menyimpan gundik atau wanita di luar nikah. Praktik pergundikan ini merupakan adat raja-raja Jawa, yang menyebar ke masyarakat luas. Praktik pergundikan ini terus terjadi hingga zaman colonial dan pada masa itu yang terjadi bukan lagi antara raja dengan masyarakatnya, namun antara tuan tanah dengan perempuan dari kalangan pribumi atau budak yang menjadi bawahannya. Sedikitnya, ada 11 kabupaten yang dalam sejarah dikenal sebagai pemasok perempuan untuk raja, yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, serta Kuningan di Jawa Barat; Pati, Jepara, Grobogan, serta Wonogiri di Jawa Tengah; dan Blitar, Malang, Banyuwangi, serta Lamongan di Jawa Timur.
Sekarang beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas sektoral.
Tepat pada tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.

 

Ratusan warga eks lokalisasi Dolly Surabaya kembali menggelar aksi di depan Pengadilan Negeri Surabaya Jalan Arjuno, Senin (3/9/2018). Mereka mengawal sidang putusan atau vonis perkara gugatan class action kelompok warga atas penutupan Lokalisasi Dolly. Sama seperti aksi sebelumnya, warga membawa produk-produk usaha ekonomi seperti sandal hotel, kain batik, hingga produk jajanan khas Dolly. Kelompok warga eks lokalisasi Dolly bergabung dengan massa dari Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Jawa Timur yang mendukung Pemkot Surabaya dalam kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly. Baca juga: 5 Berita Terpopuler Nusantara, Warga Kampung Dolly Gugat Risma hingga Fakta Si Macan Asia Tidak jauh dari lokasi aksi warga eks lokalisasi Dolly dan massa GUIB Jatim menggelar aksi, ratusan kelompok warga penggugat juga menggelar aksi mendukung majelis hakim agar mengabulkan gugatan warga.
Pantauan Kompas.com, kedua kelompok massa yang sama-sama menggelar orasi, dipisah barikade personil polisi sepanjang 50 meter. Aksi kedua massa menimbulkan kemacetan di Jalan Arjuno, karena memakan separuh jalan. Seperti diberitakan, kelompok warga yang mengatasnamakan warga eks lokalisasi Dolly menggugat Pemkot Surabaya atas kerugian materil maupun immateril atas kebijakan penutupan Lokalisasi Dolly pada 2014 lalu. Pemkot Surabaya dianggap tidak berhasil memulihkan ekonomi warga lokalisasi Dolly seperti yang dijanjikan. Atas gugatan itu, Pemkot Surabaya diminta membayar kerugian sebesar Rp 270 miliar. 
Salah seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.
            Memang selama ini Dolly menjadi salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta
(US$ 25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.
            Munculnya pengangguran baru yang ada setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan permasalahan baru di Kota Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut menilai, pentupan ini bakal membuat hidup warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara
            Sejak pemerintah menutup lokalisasi Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti biasanya. Di mana terlihat puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu. Sebelumnya sudah biasa terdengar suara music bersahutan antar wisma. Mulai music dangdut hingga music disco. Kini, masayarakat tersebut sudah beralih profesi sesuai dengan kondisi yang saat ini.
            Seperti yang dulunya bekerja sebagai mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang dulunya bekerja sebagai pemilik salon, sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, hingga yang dulunya berjualan atau membuka took kelontong ikut berganti pula membuka giras (warung kopi), yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma sekarang membuka usaha laundry, tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih fungsi menjadi tempat futsal oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal dengan bangunannya yang 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal dan sepatu kulit.
            Penutupan Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung Pemerintah Provinsi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye menghapus julukan Kota Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga tahun terakhir. Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.
            Untuk mendukung Program Surabaya Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp. 4,2 juta kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi 162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapa 213 PSK.
            Dalam rangka melakukan penutupan, Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk membeli seluruh wisma yang ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota Surabaya berencana mengubah wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam. Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan computer, lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga direncanakan akan di bangun taman-taman kota.
            Namun demikian, penutupan lokalisasi Dolly pada tanggal 28 Juni 2014 tetap menimbulkan kontroversi, terutama bagi mereka yang memperoleh penghasilan dari kawasan tersebut. Lokalisasi dianggap memberi penghidupan bagi masyarakat sekitar. Seperti berbagai praktek penggusuran lain, pemindahan pusat pereonomian dari satu tempat ke tempat lain selalu menimbulkan ketakutan bagi pelaku usaha. Ketakutan itu terkait dengan ketidakyakinan mereka bahwa di tempat yang baru mereka dapat memperoleh penghasilan yang setara dengan yang mereka terima ketika di Dolly.
            Secara resmi lokalisasi Dolly sudah ditutup namun bukan berarti Pemerintah berhasil mematikan praktek pelacuran. Masalahnya uang kompensasi sebesar Rp. 5,050 juta untuk PSK dan Rp. 5 Juta untuk mucikari yang telah disiapkan Pemerintah Kota Surabaya tidak disetujui oleh semua calon penerima. Menurut Koordinator Front Pekerja Lokalisasi (FPL) Gang Dolly dan Jarak, Pokemon, uang sebesar Rp. 5 juta itu tidak berarti banyak untuk para PSK dan mucikari.   
            Hingga menjelang penutupan, PSK yang mengambildana kompensasi hanya sebanyak 397 orang dan mucikari sebanyak 69 orang. Sedangkan yang mengembalikan uang kompensasi ada lima PSK dan tiga mucikari. Ditengarai bahwa PSK yang menerima kompensasi adalah mereka yang tidak bisa berbisnis pelacuran lagi karena alasan usia. Ini menimbulkan kekhawatiran adanya pelacuran terselubung oleh para PSK yang masih laku.
            Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.
            Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.


Tempat prostitusi di Surabaya yang terkenal sampai dengan mancanegara yaitu Dolly, tidak hanya akan ditutup berdasarkan  Peraturan Daerah (Perda) No.7 tahun 1999 tentang Larangan Menggunakan Bangunan/Tempat untuk Perbuatan Asusila, serta Pemikatan untuk Melakukan Perbuatan Asusila dinilai blunder.
Oleh sebab itu banyak pihak yang menuturkan bahwa Perda yang ada tidak akan mampu menutup serta menyatakan bahwa Dolly merupakan segudang tempat yang dikategorikan ilegal.
Hal tersebut tentu saja masuk akal, kalau ada Peraturan Daerah yang dikeluarkan, kenapa Dolly tidak dibubarkan saja dari dulu ? lagipula secara histotis keberadaan lokalisasi di Jalan Jarak, Kelurahan Putat Jaya, itu sudah lama dan sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat.
Sehingga selain adanya Perda yang ada tetap saja dibutuhkan payung hukum berupa SK dari Wali Kota. Jika Wali Kota menyatakan tempat itu sebagai temapt yang ilegal dan harus dibubarkan, maka tempat itu akan sesegera mungkin dibubarkan.
Hal tersebut dibuktikan langsung dengan aksi para PSK yang memblokade jalan utama untuk menuju Dolly pada Rabu pagi (16/6). Aksi demo diiringi dengan aksi blokade jalan diramaikan dengan teriakkan para PSK Dolly yang menghujat Wali Kota Surabaya  Tri Rismaharini dengan kata-kata yang sangat kejam.
Berdasarkan pengertian dari Pekerja seks Komersial merupakan penjualan jasa seksual  seperti seks oral atau hubungan seks, untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK) (Wikipedia).
Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah sebutan bagi “pelacur”. Istilah lain yang memiliki arti yang sama adalah Wanita Tuna Susila (WTS), dan perempuan yang dilacurkan (Pedila). Pada Ensiklopedia Nasional Indonesia dijelaskan bahwa ”pelacuran” sama artinya dengan “prostitusi”, merupakan kegiatan manusia dalam menjual atau menyewakan tubuhnya untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan suatu imbalan atau upah.
Latar belakang tumbuhnya Pekerja Seks Komersial
1.      Menghindari kesulitan hidup dengan jalan yang pendek
2.      Adanya keroyalan seks
3.      Perilaku konsumtif dan adanya kemalasan untuk bekerja
4.      Pengaruh lingkungan
Akibat yang dapat ditimbulkan dari Pekerja Seks Komersial
1.      Adanya penyakit menular seksual dari dalam tubuh
2.      Merusak tatanan moral yang ada dalam keluarga
3.      Merusak norma yang ada dalam lingkungan
4.      Dekatnya dengan kriminalitas terutama narkotika
5.      Eksplorasi manusia lainnya

Pemerintahan selama ini telah melakukan segala daya dan upaya untuk memberantas habis kegiatan pelacuran yang ada, akan tetapi sampai saai ini pun hasil yang ditujukkan masih belum memuaskan. Padahal jika ditelusuri dengan hati yang jernih kegiatan pelacuran dapat menimbulkan benih-benih penyakit yang sangat berbahaya salah satunya adalah HIV AIDS.


Kuliah lapangan yang saya ikuti ini bertempat di Jalan Kupang Gunung Timur Gang VII di sebuah masjid bernama At-Taubah, sesuai namanya yaitu tempat bertaubat. Nama yang tepat untuk sebuah Rumah Allah di tengah-tengah lingkungan yang dikelilingi oleh kemaksiatan. Yaitu sebagai tempat kembali menjadi manusia yang bersih dan suci dari noda dosa. Pada tahun 1987 masjid ini dulunya adalah rumah Allah ini masih Mushalla sederhana bernama Al Huda. Kemudian dengan semakin kesadaran warga sekitar dalam beribadah, akhirnya pada tahun 1989 mushollah itu berubah menjadi masjid. Dan pada tanggal 17 Februari 1989 adalah khutbah pertama yang dilakukan oleh pak Petruk.
            Kuliah lapangan yang mengambil tema “DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTREPRENEURSHIP” ini menghadirkan empat narasumber yang sangat hebat. yaitu yang pertama ada Dr. H.A. Sunarto AS, MEI dengan julukan Doktor Prostitusi, anggota IDEAL (Ikatan Da’i Area Lokalisasi)-MUI Jatim, kemudian selanjutnya yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib yang berjuluk Kyai Prostitusi yang namanya sering tertulis di media berita online sehubungan dengan penutupan lokalisasi, yang ketiga ada H. Sunarto Sholahudin, seorang pengusaha sukses, owner PT . Berkah Aneka Laut, dan yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman dan juga anggota IDEAL-MUI Jatim.


            Selain ke-empat narasumber dalam kuliah lapangan tersebut, ada lagi 1 orang yang juga cukup berpengaruh dan disegani oleh warga sekitar, yaitu seorang bapak berdarah campuran Yaman-Jawa bernama Ngadimin Wahab atau nama akrab dan sapaannya yaitu Abah Petruk. Beliau ini adalah seorang pengurus masjid At-Taubah sekaligus mubaligh awal yang memutuskan untuk terjun demi membenahi umat. Beliau juga yang ikut menjadi saksi bagaimana proses dakwah berjalan di area yang sangat sulit tersebut, ikut bersama menemani Mushalla Al-Huda hingga berubah menjadi Masjid At-Taubah.

Abah Petruk (kiri) KH. Drs. Khoiron Syuaib
            Abah Petruk ini dalam proses dakwahnya menggunakan metode penyembuhan. Penyembuhan yang dimaksud adalah penyembuhan dari hal-hal ghaib. Seperti ketika ada PSK yang terkena penyakit ghaib (guna-guna, santet, kerasukan jin, dsb) maka Abah Petruk akan turun tangan. Di sela-sela penyembuhan ini lah, dengan perlahan Abah Petruk juga menyematkan sedikit demi sedikit segala hal yang menyangkut keimanan. Tetunya, ini juga bukan lah sesuatu yang mudah dan tanpa resiko. “Saya pernah dilempari batu ketika sedang mengimami shalat. Beruntungnya tidak sampai mengenai jamaah, hanya luka kecil. Ya wajarlah namanya juga masih tahap mbabat alas.” Ujar beliau dengan penuh kesabaran. Dan kesabaran, ketelatenan, serta kekonsistenan itu hari ini telah membuahkan hasilnya. Do’a-do’a beliau yang selama ini sudah dipanjatkan pun telah terkabulkan.
            “Oleh karena itu, dakwah tidak bisa dilakukan hanya dengan ngomong saja. Harus ada action di lapangan.” Imbuh beliau. Dari ucapan beliau, saya sadar memang benar apa yang beliau sampaikan. Ketika dakwah di medan yang sulit seperti di Lokalisasi ini, dakwah dengan hanya berbicara saja maka tidak akan di dengar. Karena tempat semacam ini sudah terlalu bising dengan alunan musik disco dan dangdut. Maka agar pesan dakwah bisa tersampaikan, harus dibarengi dengan aksi nyata atau action seperti yang disampaikan oleh Abah Petruk di atas.
            Dari Abah Petruk, beralih ke Narasumber Pertama, yaitu H. Sunarto Sholahudin. Seperti yang sudah saya katakan diatas, beliau adalah seorang pengusaha sukses. Beliau membagikan pengalaman mengenai perjalanan hidup di mulai dari masa kecilnya yang susah secara ekonomi. Ayahnya seorang penjual es dan ibunya penjual roti. Sedang beliau sendiri sudah terbiasa menjajakan jajanan sembari bersekolah. Hingga kemudian merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib.
            Setelah melewati berbagai lika-liku kehidupan dan tantangan-tantangan yang amat sulit di Surabaya, beliau memulai berusaha dalam bidang olahan sari laut hingga sampai sukses seperti saat ini. Namun, kesuksesan itu tidak membuat beliau lupa akan kewajibannya kepada Allah SWT. Selain menuaikan ibadah syariah rutin, beliau juga ikut andil dalam proses dakwah di eks lokalisasi saat itu. Cara yang digunakannya pun cukup unik, karena beliau adalah orang yang mampu dalam hal materi, beliau menggunakan materinya untuk membeli wisma-wisma yang dijual. “Di beli satu per satu, lama kelamaan jumlah wisma tersebut akan habis. Dengan begitu tidak ada lagi tempat untuk melakukan maksiat lagi di sini.” Katanya dengan mantap. Untuk itulah, dalam dakwah lokalisasi H. Sunarto berperan dalam hal logistic. Seperti untuk keperluan Masjid-Masjid disekitar Lokalisasi dan menyantuni anak-anak yatim serta janda-janda miskin disekitar lokalisasi.
            Dalam kesempatan itu juga, beliau menitip pesan untuk saya dan teman-teman yang mengikuti kuliah lapangan tersebut. Pertama beliau berpesan mengenai kejujuran. Beliau mengatakan kejujuran adalah modal utama untuk menuju kesuksesan. Kemudian beliau mengatakan jangan sampai kita dikendalikan oleh elektronik, akan tetapi sebaliknya kitalah yang harus mengendalikan elektronik. Lalu, beliau juga mempunyai motto hidup “man jadda wa jada” yang selalu dipegangnya. Terakhir, beliau berkata: “Kreatif anda akan menjadi uang untuk anda.” Itulah pesan beliau yang selalu saya ingat. Sebagai sosok pekerja keras tangguh dan tidak lupa akan kewajiban agamanya meskipun sudah berada di puncak kesuksesan.
            Setelah H. Sunarto Sholahudin, narasumeber ke dua adalah Dr. H. Sunarto AS, MEI yang juga merupakan dosen Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Seperti yang sudah saya katakan di atas, beliau memunyai julukan sebagai “Doktor Prostitusi” karena rumah beliau dekat dengan area lokalisasi dan beliau mendedikasikan diri untuk ikut terjun berdakwah di dunia kemaksiatan tersebut.
            Menurut beliau, dakwah itu merubah dan merombak kemungkaran. Apa yang harus dirubah? Banyak. Salah satunya merubah mainseat pelacur dan mucikari yang mengatakan “Tidak melacur, tidak makan.”. bagaimana cara yang tepat agar mainseat yang sudah tertanam di alam bawah sadar mereka sejak lama dapat dirubah melalui dakwah. Dalam hal ini, beliau juga mengatakan bahwa berdakwah dilakukan dengan cara kelembagaan. Beliau juga berdakwah melalui lembaga yang bernama FORKEMAS (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya).
Dalam berdakwah, beliau menggunakan metode Persuasif, yaitu metode pendekatan untuk mengenali mitra dakwah lebih dekat. Integratif, yaitu  dan Solutif. Dan satu statement luar biasa dari beliau adalah “Kemaksiatan menjadi hebat karena di manage dengan baik.” Sesuatu yang buruk di persiapkan dengan baik hasilnya hebat, apalagi sesuatu yang baik dan cara penyampaiannya dengan baik pula, justru semakin lebih hebat. Oleh karena itu, pesan-pesan islam yang indah juga harus di manage dengan baik.
Kemudian narasumber ketiga yaitu KH. Drs. Khoiron Syuaib dengan julukannya “kyai prostitusi”. Beliau mengklasifikasi mitra dakwah menjadi empat macam, yaitu PSK, mucikari, tokoh-tokoh berpengaruh seperti RW, dan masyarakat yang merasa diuntungkan dengan adanya lokalisasi. Metode beliau dalam berdakwah adalah mendekati masing-masing mitra dakwah dengan dakwah santai dan tidak langsung menyalah-nyalahkan perbuatan mereka serta menghindari dakwah yang terkesan membosankan.
Salah satu contoh ketika berdakwah pada PSK beliau mengatakan proses dakwah sampai dilakukan di tretes untuk memberikan pesan keisaman agar menyentuh hati dan terbukti setelah dari sana, mereka semua menjadi insyaf dan berhenti dari pekerjaan maksiat tersebut. Satu statement beliau adalah “Prostitusi selama setan masih hidup maka akan terus ada sampai kiamat”. Oleh karena itu, dakwah juga terus dilakukan untuk mengimbanginya.
Narasumber yang terakhir yaitu H. Gatot Subiantoro, seorang mantan preman yang termasuk dalam salah satu preman berpengaruh di area lokalisasi. Mengenai pengalaman dalam hal dunia kemaksiatan tersebut beliau sudah khatam. Beliau berbagi cerita bagaimana seorang Gatot yang setiap harinya bergelimang uang hasil upeti dari para PSK dan lelaki hidung belang yang menyewa jasa mereka. Setiap harinya yang selalu ditemani oleh minuman keras dan  dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelahi dengan preman-preman lain.
Tetapi itu semua sudah menjadi cerita masa lalu bagi beliau. Alhamdulillah Allah SWT masih menyayangi beliau dan memberikan hidayahnya pada beliau sehingga di usia yang sudah tidak lagi muda beliau masih bisa merasakan manisnya iman islam melalui para mubaligh-mubaligh yang sudah saya sebut di atas. Beliau bercerita, bahwa metode dakwah para mubaligh di atas berbeda dengan metode da’i yang lain. Ketika mereka datang, mereka tidak langsung mengatakan hal ini dosa, hal itu dilarang, kamu harus taubat, kamu harus sholat, dan sebagainya. Tetapi mereka merangkul beliau terlebih dahulu dengan dilibatkan pada acara-acara hari besar islam seperti menjadi panitia kurban pada saat Idul Adha.
Dari perlakuan yang seperti inilah, yang membuat beliau tersentuh dan dapat menangkap sinar hidayah Allah SWT. Dakwah yang tulus, ikhlas, sabar, telaten, dan halus inilah yang mampu mengubah seorang Gatot Subiantoro menjadi sosok Umar Bin Khattab ketika di zaman Rasulullah SAW. Sesorang yang awalnya antipasti dan menentang dakwah, kini menjadi pembela dakwah islam paling depan dan kemudian ikut serta dalam aksi dakwah.
Tetapi sudah pasti, ini semua bukan hal mudah bagi beliau. Cemoohan dari kawan-kawan lamanya kerap kali di dengar beliau. Tuduhan sok aim dan sok suci karena berkumpul dengan kyai tetap tidak membuat surut langkahnya di atas jalan kebenaran. Buah kesabaran dan kekonsistenan beliau hingga sampai mendapatkan bonus dari Allah SWT berupa mengunjungi rumahnya Baitullah untuk menunaikan ibadah haji di Makkah dan Madinah melalui undangan khusus dari kerajaan Saudi Arabia. Tentu ini sesuatu yang amat langka yang belum tentu semua muslim bisa memperolehnya.
Kata-kata pesan beliau yang paling berkesan bagi saya adalah “Kekayaan nggak ada habisnya, kemiskinan nggak ada habisnya, akan tetapi usia ada habisnya.” dan “Dakwah jangan hanya di Masjid saja, tetapi harus kemana-kemana. Tetangga masih membutuhkan perhatian kita”. Semoga beliau-beliau yang saya ceritakan di atas, tetap diberi kesehatan dan usia yang panjang agar bisa terus memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dimanapun berada.
Berikut ini 5 kesan saya selama mengikuti kegiatan kuliah lapangan di eks-lokalisasi :
1.      Saya dapat mengetahui bagaimana proses dakwah secara keseluruhan yang dijalankan untuk memberantas PSK yang ada di Gang Dolly.
2.      Mengetahui tentang dunia entrepreneurship bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan kejujuran.
3.      Allah selalu Memberikan Hidayah tanpa terduga-duga.
4.      Dapat mengetahui hasil dari proses dakwah yang dilakukan secara konsisten.
5.      Berdakwah dengan cara yang tegas tetapi penuh dengan kelembutan dan tanpa pemaksaan.
Dapat mengenal para mubaligh-mubaligh hebat yang telah berkontribusi besar dan mendedikasikan diri untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar.




Komentar